Selasa, 27 Desember 2011

Senyum Itu Tetap Selalu Ada... Apapun Yang Terjadi

Catatan Perjalanan Ke Atiahu, Seram Bagian Timur, Dalam Rangka Diklat Pendampingan Sosial Program Desa Sejahtera


Seram Bagian Timur... Nama kabupaten yang bagi saya cukup asing... Ketika 6 bulan yang lalu saya mendapat info bahwa saya akan ada tugas untuk melakukan diklat di sana, saya langsung mencari-cari informasi tentang lokasi kabupaten ini. Saya bertanya pada teman-teman di Ambon. Mereka balik bertanya “tepatnya mau ke daerah mana bu...?”. saya jawab, "Desa Atiahu". Dengan detil mereka menerangkan transportasi apa saja yang harus saya gunakan untuk sampai ke sana. Pertama, dari Ambon naik mobil ke pelabuhan, kemudian naik kapal feri, dilanjut dengan naik mobil lagi menuju Tehoru. Sesampai di Tehoru, nyebrang lagi dengan menggunakan speedboat. Saat mendapat info itu, yang terlintas di pikiran saya adalah “Oh My God....Jauh juga ya.....”
Akhirnya.. awal Desember kemarin, datanglah saatnya saya berangkat ke Atiahu, Seram Bagian Timur, dengan memori keterangan yang saya peroleh 6 bulan yang lalu. Dari Jayapura naik pesawat ke Makassar, kurang lebih 3,5 jam perjalanan. Karena sudah sore, saya bersama rombongan 7 orang kawan dari kantor menginap di Makassar. Dini hari, sekitar jam 4 pagi, kita sudah berada di Bandara Hasanuddin untuk naik pesawat menuju Ambon. Perjalanan sekitar 1,5 jam. Tepat Jam 08.00 WIT kita sampai di Bandara Pattimura. Dari sini petualangan dimulai. Ini dia, “perjalanan jauh kita” yang memang sudah terbayangkan di benak saya.
Kami naik mobil ke Pelabuhan Liang, kurang lebih 1 jam. Lanjut dengan Kapal fery, kurang lebih 2 jam. Dari pelabuhan penyeberangan, kita naik mobil lagi menuju Tehoru. Sampai matahari hampir terbenam di ufuk Barat, mobil belum juga sampai ke Tehoru. Saya bertanya sama pak supir, “Kira-kira sampai tehoru jam berapa ya pak...?” Dengan santai pak supir menjawab.... “Mungkin Tengah Malam bu....”. Gubrak..... Oh My God. Saya memang sudah membayangkan perjalanan ini jauh. Tapi saya tidak membayangkan perjalanan akan sejauh dan memakan waktu selama itu....
Setelah matahari benar-benar terbenam, betapa lengkap keterkejutan saya melihat rumah-rumah di sepanjang jalan yang kita lalui menuju Tehoru belum terpasang listrik. Walhasil, Jalan gelap gulita... Saya sudah membayangkan... Bagaimana bentuknya Atiahu ya.....
Akhirnya... Jam 22.00 WIT mobil sampai di Tehoru. Pelabuhan sudah gelap. Ternyata pelabuhannya sangat kecil, dan berada di kampung nun jauh di sana. Begitu sampai. Ternyata... Masih ada Speed boat yang mau mengantar kami ke Atiahu malam itu. Spontan saya bertanya.. “Berapa lama pak naik speed nya...?”. Pemilik Speed menjawab “2 jam bu....”. “Whaaaaaaaaaatttttt!!!!!!”.
Rasa putus asa mulai menyergap... Spontan saya berkata “ Stop sudah.... kita lanjutkan perjalanan esok hari....., daripada mati konyol malam-malam di tengah laut”

Akhirnya, kita bermalam di Atiahu.... Keesokan paginya. Speed boat sudah menunggu. Saya dan rombongan langsung melaju. Melihat keindahan laut yang dikelingi pulau-pulau di Tehoru.... Terbalas rasanya rasa capek perjalan dua hari dari Jayapura. Speed melaju dengan kencang. Menabrak ombak-ombak laut yang rasanya seperti goncangan-goncangan keras.
Setelah 2 jam. Speed mulai merapat di bibir pantai Desa Atiahu.. Tidak ada dek kapal. Tidak Ada Pelabuhan. Tidak ada apapun.. Hanya pantai dengan pasir dan kerikil. Dalam Hati saya berkata. “THIS IS IT, ATIAHU”. Di Pantai sudah menunggu beberapa orang. Ternyata mereka adalah Panitia penyelenggara dari Kabupaten Seram Bagian Timur yang sudah dari kemarin menunggu kita di bibir pantai. Kasiaaaaannnnn...... Maklum, sinyal HP tidak ada. Jadi, kita tidak bisa mengkomunikasikan kepastian sampainya kita di pantai Tehoru.
“Selamat datang di Atiahu”...
Senang sekali mendengar sapaan itu. Rasanya sudah selesai perjalanan jauh ini. Tapi... tunggu dulu.... Ternyata belum selesai.. Kita masih harus naik Ojek lagi menuju lokasi diklat. Menyusuri jalan-jalan di kampung dan keluar masuk sungai.

Karena sebagian besar sungai-sungai besar di sana tidak ada jembatannya. Jadi, kendaraan harus turun ke sungai, kemudian naik lagi. Untung walaupun sungainya besar tapi airnya tidak dalam.
Sampailah kita di lokasi diklat. Di Kantor kecamatan Siwalalat. Kecamatan ini baru dimekarkan. 1 tahun yang lalu. Gedungnya masih baru. Ada kurang lebih 10 ruangan, tapi masih terlihat kosong, karena pegawai yang ada di kantor kecamatan ini hanya 3 orang. Kantor itu juga dilengkapi dengan ruang pertemuan dengan ukuran kurang lebih 3 m x 6 m. Tempat inilah yang akan digunakan untuk kelas diklat. Yup... Lumayan, tidak terlalu kecil. Tapi mungkin akan sedikit panas. Karena tidak ada listrik.. 
OK. I’m ready with all of these...
Setelah melihat-lihat lokasi diklat. Kita makan siang dan santai-santai di lokasi penginapan.

Begitu matahari sudah hampir terbenam. Dengan diantar oleh anak bapak camat yang masih SMP, saya dan seorang teman perempuan berangkat mandi ke sungai. Sebagian besar penduduk desa di sini mandi di Sungai. Airnya sangat jernih. Tapi....tempat mandinya berada di areal yang sangat terbuka.
OK, kapan lagi saya mandi di sungai....
Saya nikmati saja fasilitas yang ada di sini dengan enjoy, selama 8 hari.....

Kenangan Indah
Perjalanan berat dari Jayapura rasanya terbayarkan ketika saya melihat keindahan laut dan pantai-pantai di Atiahu. Belum pernah rasanya melihat yang seindah ini. Ikan berenang di mana-mana. Semilir angin yang menyejukkan. Sunset yang luar biasa... Itu semua bisa dinikmati setiap saat. Karena semuanya sudah ada di depan mata. Di depan rumah.......
Fasilitas minim yang ada di Atiahu juga tidak meninggalkan kenangan pahit. Justru kenangan itu menjadi kenangan yang menyenangkan. Setiap pagi kita berangkat ke sungai yang jaraknya sekitar 200 meter dari rumah yang kita tempati. Sepanjang perjalanan bertemu dengan anak-anak yang mau berangkat sekolah. Satu hal yang tak bisa kulupakan adalah “Semua anak yang bertemu dengan kita, selalu mengucapkan Assalamualkaikum”. Rupanya budaya ini ditanamkan sejak kecil. Sudah jarang rasanya saya mendengar sapaan itu dari sesama muslim sekalipun. Apalagi bagi kita yang tinggal di Jayapura. Di mana Islam adalah agama yang..bisa dibilang minoritas. Bukannya saya RASIS. Tapi sapaan itu seakan-akan menyentuh rasa dan jiwa saya yang terdalam... rasa yang seakan sudah hilang tertutup debu-debu modernisasi dan sapaan-sapaan gaul..
Pengalaman terindah yang sampai saat ini membuat hati saya seakan terikat di Atiahu adalah keramahan, kejujuran, dan kehangatan orang-orangnya. Baru 1 hari saya di sana.. rasanya sudah seperti saudara. Semua orang menyapa hangat. Semua orang menawarkan keramahan. Dan semua orang tidak menyembunyikan kebohongan. Saya ingat sekali ketika suatu saat kita berdiskusi di kelas mengenai anak terlantar. Peserta yang tergabung dalam Kelompok kerja yang menangani anak terlantar ,mengatakan ada 6 orang anak yang tidak bisa sekolah karena faktor biaya. Ketika saya tanya.. “Bayar sekolah di sini berapa?” Mereka menjawab “Rp. 10.000/ semester bu...”
Hati saya rasanya seakan-akan dihantam sedemikian kerasnya, sehingga tidak bisa saya tahan tetesan air mata jatuh di pipi.....
Oh My God.....
Saya langsung teringat saat-saat saya membelanjakan uang dengan sedemikian mudahnya di supermarket, di warung makan dsb. Padahal uang itu sangat berharga di Atiahu. UANG RP. 10.000 YANG DI JAYAPURA HANYA DAPAT 1 BUNGKUS ES BUAH. DI ATIAHU BISA MEMBANTU 1 ORANG ANAK UNTUK TETAP BISA MELANJUTKLAN SEKOLAHNYA
Tidak adil sekali rasanya melihat kondisi yang ada di Atiahu ini. Di Ujung pelosok Indonesia, dengan fasilitas minim, transportasi sulit dan mahal, dan keterbatasan ekonomi yang luar biasa.......
Semua itu tidak membuat masyarakat geram dan marah terhadap Pemerintah Indonesia. Tidak juga menjadikan mereka orang yang tidak peduli pada orang lain. Tidak juga menghilangkan SENYUM yang selalu terukir di bibir mereka.

Saya rindu senyum itu......
Saya ingin membuat.... Senyum itu tetap selalu ada... apapun yang terjadi

2 komentar:

  1. Buat teman-temanpekerja masyarakat.. mungkin ini bisa jadi salah satu lokasi dampingan....

    BalasHapus
  2. Turut Berduka Cita atas meninggalnya Bpk Ramli Walakula, Salah satu pendamping dalam Program Desa Sejahtera di Atiahu, pada tanggal 3 Januari, dalam tugas mensurfei jalur transportasi Lintas Atiahu-Bula...
    Semoga amal ibadahnya diterima di sisi-Nya

    BalasHapus